Sabtu, 29 Juni 2013

Sinar Gamma Dari Ledakan Bintang Hantam Bumi Tahun 774



Ledakan singkat sinar gamma mungkin menjadi penyebab adanya ledakan intens radiasi energi-tinggi yang menghantam Bumi pada abad ke-8.
Mungkin kita pernah memikirkan suatu hal tentang kejadian besar yang menimpa planet Bumi, seperti membayangkan meteor yang jatuh atau radiasi ledakan matahari terhebat yang pernah terjadi. Semua itu pernah terjadi, tapi kita tak pernah tahu bagaimana dampak yang telah ditimbulkan akibat bencana besar ini. Seperti peristiwa radiasi sinar Gamma yang disebutkan Miyake pernah terjadi di abad ke-8, bagaimana dampak kejadian ini? Adakah kerusakan yang ditimbulkan akibat hantaman radiasi sinar gamma terhadap Bumi dan planet lainnya?

Peristiwa Radiasi Sinar Gamma Abad Ke-8

Pada tahun 2012, ilmuwan Fusa Miyake mengumumkan deteksi tingkat tinggi adanya isotop karbon-14 dan Berilium-10 di tahun 775 Masehi, yang menunjukkan bahwa ledakan radiasi sinar gamma telah menghantam Bumi pada tahun 774 atau 775 Masehi. Analisis ini diterbitkan pada Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, edisi Januari 2013.
Karbon-14 dan Berilium-10 terbentuk ketika radiasi bertabrakan di ruang angkasa dengan atom nitrogen, kemudian meluruh hingga berbentuk lebih berat dari pada karbon dan berilium. Penelitian sebelumnya telah mengesampingkan adanya ledakan terdekat pada sebuah bintang masif (supernova) yang tidak tercatat dalam pengamatan pada saat itu, dan tidak ada sisa-sisa yang telah ditemukan.
Prof Miyake juga mempertimbangkan apakah Solar Flare salah satu penyebabnya, tetapi dugaan ini tidak cukup kuat untuk mendasari sebab akibat kelebihan karbon-14. Ledakan yang besar kemungkinan akan disertai dengan pelepasan materi dari korona matahari, hal ini juga akan menyebabkan fenomena cahaya di utara dan selatan (yang dikenal Aurora), tetapi catatan sejarah tidak menyatakan hal itu terjadi.
Menurut sejarah, beberapa bukti peninggalan kebudayaan juga terkait dengan peristiwa ini. Simbol-simbol yang mereka gunakan sepertinya memberikan sebuah isyarat bahwa pada masa itu pernah terjadi pristiwa besar. Seperti yang ditunjukkan peneliti tentang adanya bukti dalam sejarah Anglo-Saxon yang menggambarkan Salib Merah terlihat setelah matahari terbenam, dan menyatakan bahwa hal ini mungkin peristiwa supernova. Tapi peristiwa ini terjadi di tahun 776 Masehi, waktu yang terkait tidak tepat untuk membuktikan adanya karbon-14 dan masih tidak menjelaskan mengapa tak ada sisa-sisa yang bisa terdeteksi.

Sinar Gamma Berasal Dari Tabrakan Dua Bintang

Ada beberapa prediksi, hipotesis yang diungkapkan beberapa ilmuwan tentunya sangat membantu sebab akibat adanya tabrakan dua bintang. Seperti penjelasan Hambaryan dan Neuhauser yang memiliki penjelasan hipotesis lain, mereka sangat konsisten dengan pengukuran karbon-14 dan tidak pernah menemukan bukti pendukung adanya peristiwa besar di luar angkasa. Ilmuwan Valeri Hambaryan dan Ralph Neuhauser berasal dari University of Jena-Jerman, mereka mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Monthly Notices dari Royal Astronomical Society.
Hipotesis yang dijelaskan disini menunjukkan adanya sisa-sisa dua bintang padat, yaitu lubang hitam, bintang neutron atau bintang kerdil putih yang saling bertabrakan dan tergabung menjadi satu. Ketika peristiwa ini terjadi, beberapa energi telah dilepaskan dalam bentuk sinar gamma, dan bagian yang paling energik dari peristiwa spektrum elektromagnetik mencakup adanya fenomena cahaya Aurora. Cahaya aurora yang terlihat tepat seperti yang ada di wilayah kutub, aurora ini ternyata menjadi bukti bagi ilmuwan untuk tetap terus melanjutkan penelitian mereka. Jadi, sejauh mana perkembangan hipotesis ini kedepannya? Baiklah, mari kita bahas kelanjutan hipotesis ini walaupun misteri ini masih sulit kita terima.
Dalam penggabungan dua bintang tersebut, ledakan sinar gamma sangat intens tetapi berlangsung cepat, biasanya terjadi tidak lebih dari dua detik. Peristiwa ini terlihat di galaksi lain berkali-kali setiap tahun, berbeda dengan semburan berdurasi panjang tanpa penampakan cahaya yang sesuai.
Jika ini hal ini merupakan penjelasan adanya ledakan radiasi sinar gamma di tahun 774-775 Masehi, maka bintang yang tergabung terletak sangat jauh sekitar 3000 tahun cahaya. Atau jika lebih dekat, peristiwa itu akan menyebabkan punahnya beberapa kehidupan di darat.
Berdasarkan pengukuran karbon-14, Hambaryan dan Neuhauser meyakini bahwa sinar gamma yang meledak berasal dalam sistem bintang antara 3000 dan 12000 tahun cahaya dari Matahari. Hal ini akan menjelaskan mengapa tidak ada catatan sejarah adanya supernova atau kemunculan aurora. Penelitian lain menunjukkan bahwa beberapa cahaya yang tampak telah memancarkan semburan sinar gamma secara singkat, yang bisa dilihat pada peristiwa yang relatif dekat. Peristiwa ini mungkin hanya terlihat selama beberapa hari dan akan mudah terjawab, tapi tetap saja berharga bagi sejarawan.
Para astronom juga mencari objek gabungan, sebuah lubang hitam yang berjarak 1200 tahun cahaya atau bintang neutron berjarak 3000-12000 tahun cahaya dari Matahari, tapi tanpa karakteristik gas dan debu dari sisa-sisa supernova. Jika ledakan sinar gamma terjadi lebih dekat ke Bumi, peristiwa itu akan menyebabkan bahaya yang signifikan terhadap biosfer. Bahkan peristiwa serupa berjarak ribuan tahun cahaya bisa menyebabkan kerusakan sistem elektronik. Kerusakan ini jauh lebih besar dari apa yang pernah kita bayangkan. Seperti prediksi gelombang ledakan matahari, bahkan peristiwa ini jauh lebih besar. Mungkin saja jutaan makhluk hidup yang ada di Bumi tidak akan bertahan.
Lalu, seberapa sering radiasi tersebut menabrak bumi? Dalam 3000 tahun terakhir, diprediksikan bahwa peristiwa tabrakan radiasi sinar gamma ke Bumi pernah terjadi satu kali. Mungkinkah di abad pertengahan telah terjadi dan menyebaban pemusnahan makhluk hidup, tapi nyatanya tak ada catatan sejarah yang menyatakan demikian. Dan apakah mungkin ditahun-tahun mendatang kejadian yang sama akan menimpa planet kita? Seperti yang kita ketahui dalam beberapa bulan terakhir cuaca di Bumi mengalami pemanasan global terburuk, cuaca ekstrim, tapi badan antariksa hanya menyatakan kejadian biasa yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan matahari. benarkah demikian?
Tanggapan itu mungkin tidak benar, dan beberapa peneliti telah menyebutkan bahwa Bumi telah bergeser lebih dekat dengan matahari, setidaknya pergeseran ini jauh lebih cepat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Wajar saja Bumi menjadi panas, tapi semua itu belum tentu tanpa adanya radiasi yang disebabkan badai matahari. bebera[a wilayah mungkin tidak mengalami hal sama seperti yang terjadi ditempat kita, tapi Anda juga harus tahu bahwa matahari beberapa kali mengalami ledakan besar (solar flare) diawal tahun 2013.

sumber : cutpen.com

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More